Pandangan: Refleksi Akhir Tahun 2025

Pandangan: Refleksi Akhir Tahun 2025

Refleksi Akhir Tahun dan Pesan untuk Masa Depan

Di akhir tahun 2025, kita semua diingatkan untuk melakukan refleksi terhadap berbagai peristiwa yang telah terjadi. Waktu yang tersisa ini menjadi kesempatan emas (Kairos) untuk merefleksikan apa yang telah terjadi dan mengambil pelajaran dari pengalaman masa lalu. Tujuannya adalah agar kita selalu belajar dan meningkatkan kualitas hidup bersama, baik sebagai pemimpin, aparat pemerintah, TNI, Polri, swasta, maupun individu dan keluarga.

Pengalaman adalah guru terbaik. Kita harus belajar dari kesalahan masa lalu agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Manusia adalah ciptaan Tuhan yang mulia, diberi perasaan, akal budi, dan pikiran untuk membedakan antara yang baik dan buruk. Dengan demikian, tingkah laku kita semakin baik dan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Masalah Politik, Korupsi, dan Kerusakan Lingkungan

Dari sekian banyak kejadian pada tahun 2025, ada tiga topik penting yang layak direfleksikan: masalah politik, korupsi, dan kerusakan lingkungan. Selain itu, masih ada beberapa masalah di NTT yang perlu mendapat perhatian bersama.

Pertama, tahun 2025 menjadi tahun pergantian dari "tahun politik" 2024 menjadi "tahun ekonomi". Pemilu, Pilpres, dan Pilkada telah selesai, dan pemerintahan Presiden-Wakil Presiden Prabowo-Gibran beserta para gubernur, bupati, dan walikota se-Indonesia mulai bertugas untuk memperbaiki keadaan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan rakyat. Harapan besar adalah agar gonjang-ganjing politik segera berakhir dan pemerintah serta masyarakat fokus membangun ekonomi. Namun, ternyata masalah politik masih kental dalam kehidupan kelompok elit dan sebagian masyarakat.

Kedua, praktik korupsi kembali marak. Belum setahun bekerja, sudah ada sejumlah kepala daerah yang menjadi tersangka dan terjaring OTT oleh KPK. Contohnya Bupati Lampung Tengah Ardito Wjaya yang memungut 15-20 persen dari proyek pembangunan, Wakil Walikota Bandung Erwin Affandi yang diduga korupsi pengadaan barang dan jasa, serta Bupati Kupang Timur Abdul Azis yang diduga menerima suap pembangunan RSUD. Masalah korupsi dan nepotisme memengaruhi kepercayaan masyarakat pada pemerintah dan investor.

Ketiga, kerusakan lingkungan menyebabkan bencana besar di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Bencana ini dipicu oleh curah hujan ekstrem dan kondisi ekologi yang semakin terdegradasi. Deforestasi dan aktivitas pertambangan telah melemahkan daya tahan lingkungan. Korban jiwa mencapai 1.138 orang, dengan banyak rumah dan fasilitas publik rusak.

Masalah Lokal NTT yang Menyita Perhatian

Selain isu nasional, ada juga masalah lokal NTT yang menyita perhatian. Salah satunya adalah penyebaran HIV/AIDS di kalangan pelajar dan mahasiswa di Kota Kupang, jumlahnya melebihi penderita HIV di kalangan pekerja seks komersial. Selain itu, tewasnya anggota TNI AD Prada Lucky Namo karena penganiayaan oleh sesama prajurit menimbulkan prihatin.

Refleksi dan Pesan Akhir Tahun

Beberapa pesan dan refleksi yang ingin disampaikan:

Pertama, stabilitas politik dan keamanan menjadi syarat utama bagi pertumbuhan ekonomi. Investor butuh kepastian, dan bisnis membutuhkan lingkungan yang kondusif. Masyarakat di daerah melalui tokoh masyarakat, adat, dan agama harus ikut menjaga persatuan dan kesatuan.

Kedua, pembangunan berkelanjutan harus memperhatikan lingkungan hidup. Aspek lingkungan harus terintegrasi dalam perencanaan pembangunan, penggunaan teknologi hijau, dan pengelolaan SDA berkelanjutan.

Ketiga, para pemimpin harus lebih mengutamakan kepentingan rakyat ketimbang kepentingan pribadi atau golongan. Integritas, kejujuran, transparansi, dan akuntabilitas adalah kunci keberhasilan kepemimpinan.

Keempat, kita merasa prihatin atas oknum pelajar dan mahasiswa yang terperosok dalam pergaulan bebas. Pemerintah daerah, masyarakat, dan orang tua harus melakukan upaya pencegahan, edukasi, dan dukungan psikologis.

Kelima, kasus tewasnya Prada Lucky sangat memprihatinkan. Kita berharap pengadilan militer menjalankan tugasnya dengan berkeadilan agar peristiwa serupa tidak terulang.

Keenam, pesan Paus Fransiskus dalam ensiklik “Laudato Si” menekankan pentingnya menjaga lingkungan hidup. Juga pesan Kardinal Mgr Ignatius Soeharyo tentang pentingnya peran keluarga sebagai “sekolah pertama” dalam pendidikan karakter.

Penutup

Selamat Tahun Baru 2026. Dengan semangat tahun baru, kita bersama membangun NTT tercinta.

0 Response to "Pandangan: Refleksi Akhir Tahun 2025"

Posting Komentar