
Tekanan Kerja dan Dampaknya pada Kehidupan Pribadi
Di banyak tempat kerja, tekanan sering dianggap sebagai bagian dari profesionalisme. Target yang menumpuk, tenggat waktu yang ketat, dan tuntutan hasil membuat emosi mudah naik ke permukaan. Nada bicara meninggi tanpa disadari, hingga teguran disampaikan tanpa disaring. Kalimat-kalimat yang seharusnya bisa diucapkan dengan lebih manusiawi, berubah menjadi sesuatu yang melukai.
Dalam keadaan inilah kalimat bernada merendahkan kerap dianggap wajar, seolah kalimat itu menjadi bagian dari dinamika kerja yang harus diterima siapa pun. Semua itu, kerap dibenarkan atas nama kinerja dan tanggung jawab. Seolah dunia kerja hanya diisi oleh orang-orang dengan daya tahan yang sama, latar belakang yang seragam, dan tingkat keamanan hidup yang seolah sama ketika pekerjaan terancam. Padahal, kenyataannya tidak pernah sesederhana itu.
Di balik meja kerja yang tampak rapi, setiap orang datang membawa hidup yang berbeda. Ada yang berangkat kerja dengan pikiran masih tertinggal di rumah. Ada yang sejak pagi sudah dihantui kecemasan, bukan tentang pekerjaan hari ini, melainkan tentang hari esok yang belum tentu aman. Ada pula yang bekerja sambil terus menghitung, apakah penghasilannya cukup untuk menutup kebutuhan bulan ini. Hingga ada yang bekerja sambil memikirkan tanggung jawab keluarga yang tidak bisa ditunda, apa pun kondisi batin yang sedang dialaminya.
Peran dan Sisi Manusia di Baliknya
Di lingkungan kerja, yang sering terlihat hanyalah peran. Jabatan, posisi, dan fungsi dalam sistem menjadi dasar penilaian. Ada atasan, bawahan, dan rekan kerja. Sementara itu, sisi manusia di balik peran tersebut kerap terabaikan. Padahal, setelah jam kerja berakhir, semua peran dilepas dan yang tersisa hanyalah seseorang yang harus kembali menjalani kehidupan personalnya.
Barangkali, orang yang direndahkan di sebuah kantor sedang menghitung ulang penghasilannya dalam diam. Memastikan cukup atau tidak pendapatannya untuk membayar kontrakan, cicilan, dan kebutuhan rumah tangga. Barangkali, ada biaya sekolah anak yang harus disiapkan, atau kebutuhan kesehatan orang tua yang semakin sering muncul. Hal-hal semacam ini tidak pernah masuk dalam rapat atau penilaian kinerja, tetapi justru menjadi alasan utama seseorang tetap bertahan.
Tidak semua orang bekerja dengan tujuan yang sama, sebagian bekerja demi pencapaian dan pengembangan diri. Sementara, sebagian lainnya bekerja karena memang tidak ada pilihan lain. Bagi kelompok terakhir, pekerjaan bukan soal kecintaan, melainkan soal keberlangsungan hidup.
Tekanan yang Tidak Berhenti
Konsep work-life balance sering terdengar indah dalam diskusi, tetapi sulit diwujudkan dalam prakteknya. Tekanan kerja, tidak berhenti di pintu kantor. Nakun ikut pulang, menetap di pikiran, dan mengganggu waktu istirahat. Kalimat yang merendahkan di siang hari berubah menjadi beban mental di malam hari, ketika tubuh seharusnya beristirahat.
Tidak sedikit orang yang sudah berada di rumah secara fisik, tetapi pikirannya masih tertahan di tempat kerja. Duduk bersama dengan keluarga, tapi jiwanya tidak benar-benar hadir. Menjalani rutinitas dengan perasaan lelah, yang tidak sepenuhnya bisa dijelaskan. Semua itu terjadi bukan karena kurangnya kepedulian, melainkan karena energi emosional yang telah terkuras sepanjang hari.
Diam dan Bertahan Menjadi Pilihan
Ada situasi kerja di mana diam bukan lagi pilihan pasif, melainkan strategi bertahan. Diam dipilih bukan karena tidak terluka, melainkan karena setiap perlawanan memiliki risiko. Dalam kondisi tertentu, mempertahankan pekerjaan dianggap lebih penting, daripada mempertahankan harga diri yang terus-menerus tergerus.
Orang yang direndahkan sering kali menyadari, bahwa perlakuan yang diterimanya tidak adil. Perasaan itu hadir, disadari, dan dibawa pulang. Namun setiap kali muncul keinginan untuk melawan, ada hal-hal lain yang ikut dipertimbangkan. Ada keluarga yang menunggu di rumah, dan ada kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda hanya karena luka batin.
Bertahan, kemudian menjadi keputusan yang terpaksa diambil. Kata-kata yang menyakitkan terpaksa ditelan, demi memastikan dapur rumah tetap mengebul. Rasa tidak dihargai disimpan, agar sekolah anak atau kebutuhan membantu orang tua tetap berjalan. Luka emosional dipendam, supaya orang-orang tercinta tetap merasa aman.
Dampak pada Keluarga
Tekanan kerja juga jarang berhenti pada individu, namun ikut merembet ke kehidupan keluarga. Ketika seseorang pulang dengan batin yang lelah, suasana rumah ikut terpengaruh. Anak-anak mungkin tidak memahami detail persoalan kerja, tetapi dapat merasakan perubahan emosi. Pasangan mungkin tidak mengetahui seluruh ceritanya, tetapi bisa menangkap keletihan yang tidak terucap.
Ironisnya, mereka yang bertahan dalam situasi seperti ini sering kali adalah orang-orang yang paling bertanggung jawab. Datang tepat waktu, menyelesaikan pekerjaan, dan jarang mengeluh. Bukan karena tidak memiliki batas, melainkan karena menyadari besarnya risiko jika batas itu ditegakkan.
Pentingnya Empati dalam Lingkungan Kerja
Tekanan kerja memang nyata, tanggung jawab memang harus dijalankan, dan target memang perlu dicapai. Namun di tengah semua tuntutan itu, ada ruang kecil yang sering terlewat. Yaitu ruang untuk menyadari bahwa yang dihadapi bukan sekedar peran profesional, melainkan manusia dengan kehidupan yang utuh.
Empati tidak melemahkan profesionalisme, justru menjaga agar profesionalisme tidak kehilangan sisi kemanusiaannya. Dengan menegakkan rasa empati, seharusnya dapat mengingatkan seseorang bahwa batas peran seharusnya tidak menjadi alasan untuk seseorang bisa merendahkan orang lain yang sama bekerjanya.
Karena di luar ruang kerja, ada kehidupan lain yang bergantung pada seseorang yang setiap hari berusaha bertahan. Ada keluarga yang menunggu dengan harapan sederhana, mengenai kepastian, keamanan, dan keberlanjutan hidup. Barangkali, sebelum suara meninggi dan kata-kata dilontarkan tanpa saring, ada baiknya disadari bahwa orang yang direndahkan di kantor bisa jadi adalah satu-satunya harapan yang dimiliki keluarganya. Dan mereka terpaksa menetap dan bertahan dari sikap-sikap orang yang merendahkannya, demi orang-orang yang dicintainya di rumah.
0 Response to "Mungkin, orang yang kau hina di kantor adalah harapan keluarganya"
Posting Komentar